Rabu, 13 Juli 2011

Warna-Warni Ekspedisi Ceria ke SEMERU 1-5 Juni 2011

Setelah 1 bulan lebih sebelumnya direncanakan dengan menyisipkan “pendakian pemanasan” ke Gunung Gede 21-22 mei 2011 silam, Ekspedisi Ceria Jilid 4 Komunitas Pencinta Alam Warna-Warni (KaPaWW) akhirnya berhasil terhelat dengan baik direntang 1-5 Juni 2011.

Ekspedisi pendakian ini bermula dengan dilayangkannya ajakan resmi via berbagai situs Jejaring dan juga beberapa mailing list,termasuk juga info-info via Forum Outdoor & Nature Club (OANC) Kaskus. Ajakan ini ternyata memancing antusiasme & minat kesertaan banyak peserta, dan singkatnya hingga batas waktu terakhir akhirnya 58 orang terkonfirmasi akan ikut serta bergabung dalam ekspedisi ceria pendakian gunung semeru ini.

Atas banyak masukan dari beberapa peserta, termasuk juga saran dari beberapa sesepuh OANC yang sebelumnya sudah pernah menghelat sebuah ekspedisi pendakian dengan jumlah peserta yang terbilang banyak, ke-58 peserta di bagi ke dalam grup-grup kecil dengan masing-masing grup diketuai oleh seorang ketua regu yang bertanggungjawab untuk memonitor setiap anggotanya. Regu 1 dipimpin oleh Ahmad Fauzy dengan anggota2 berasal dari sekitar Jakarta dan Tangerang, Regu 2 digawangi oleh Dwi Purwanto dengan anggota2 berasal dari sekitar Jakarta, Tangerang dan juga Bogor, Regu 3 diketuai oleh A. Djalaludin dengan kebanyakan anggota berasal dari Jakarta & Tangerang, Regu 4 dipimpin oleh Dwi Mugia Utama dengan mayoritas peserta berasal dari Bandung dan terakhir regu 5 yang dipimpin Agung Kurniawan dengan anggota banyak berasal dari timur pulau Jawa (Surabaya,Malang,Magelang), dan kebanyakan merupakan anggota Komunitas Backpacker Indonesia (BPI) Surabaya

Rabu 1 Juni – Kamis 2 Juni 2011
Meeting-Point untuk seluruh peserta ditentukan Kamis 2 Juni 2011 di Stasiun Kota Baru Malang, dengan asumsi kebanyakan peserta menjangkau Malang dengan moda transportasi Kereta Api bersama KA Matarmaja yang rentan untuk datang terlambat berkaca kepada pengalaman rekan2 sebelumnya. Namun ketika hari “H” meeting point ini ternyata harus dirubah langsung ke pasar tumpang, karena KA Matarmaja justru ternyata tiba di Malang lebih cepat dari biasanya dan justru peserta lain yang berangkat dengan angkutan lain yang malah terlambat melipir ke malang. KA Gumarang tujuan Stasiun Pasar Turi Surabaya yg saya tumpangi bersama 11 rekan lainnya terlambat sekitar 2.5 jam dari jadwal seharusnya pkl 05.20 WIB, sementara Regu Bandung yang menuju Malang dengan KA Malabar malah 2 anggotanya tercecer akibat ketinggalan kereta. Alhasil, saya me-remote rekan-rekan yang sudah lama sampai di Malang, terutama Regu Surabaya & sekitarnya, untuk langsung menuju ke Pasar Tumpang.

Saya & 11 rekan yang naik KA Gumarang akhirnya menjadi rombongan paling akhir sampai di Pasar Tumpang jelang pkl 14.15 WIB, disamping 2 rekan Bandung yang tercecer. Setelah Sholat, makan, beberapa malah mandi, koordinasipun singkat diadakan. Akhirnya satu per satu regu berangkat menuju Ranu Pane menggunakan Jeep Hardtop sewaan milik Cak Nu yang sudah menanti di depan Alfa Mart Pasar Tumpang. Setelah berhenti beberapa saat akibat terhambat beberapa volunteer/petugas yang tengah memperbaiki jalur yang rusak, jelang Pkl 17.00 WIB seluruh peserta rombongan telah sampai di Ranu Pani. Setelah registrasi pendakian dengan masing-masing peserta menyerahkan fotocopy KTP & Surat Keterangan Sehat masing-masing 2 lembar, uang pendaftaran Rp. 7.500/orang & tambahan Rp.5.000 untuk setiap Kamera yang dibawa. Briefing sejenak dan berdo’a bersama sebelum memulai pendakian, sekitar pkl 17.30 WIB seluruh rombongan memulai pendakian, terkecuali regu Surabaya yang sudah lebih dahulu berangkat serta Regu Bandung yang belum lagi sampai di Ranu Pani karena masih menanti kedatangan 2 rekannya yang tercecer.

Kamis, 2 Juni 2011

Etape I : Ranu Pane (2.200 mdpl) – Ranu Kumbolo (2.400 mdpl)
Di etape ini akan ada 4 pos yang dilalui sebelum sampai di Pos Ranu Kumbolo. Memulai pendakian rombongan mengawali dengan menyusuri jalan besar ber-aspal sekitar 5 menit sebelum akhirnya berbelok ke kanan masuk melintasi Gapura “Selamat Datang” menyusuri jalan yang lebih kecil, lalu masuk lagi ke jalur setapak dengan bata bersemen yg rapi. Diawal etape jalan setapak ini jalur sedikit menanjak stabil sampai beberapa waktu, lalu kemudian jalur landai yang mendominasi dengan disisipi sedikit tanjakan. Kurang lebih satu jam perjalanan rombongan akhirnya sampai di Pos 1 (biasa disebut “Watu Rejeng”). Pos 1 menuju Pos 2 jalur masih terbilang dominan landai sedikit menanjak sekitar setengah jam perjalanan. Selepas Pos 2 menuju Pos 3 adalah rentang antar pos terpanjang di etape I, dengan jalur yang berganti-ganti tanjakan serta turunan, dengan cukup banyak melintasi pohon-pohon ataupun ranting tumbang. Di rentang antara pos 2 dan 3 hujan rintik-rintik mulai turun, tapi tak berapa lama kemudian Alhamdulillah cerah kembali. Di Pos 3 rombongan ber-istirahat cukup lama karena beberapa orang nampak kepayahan ditambah kondisi mengantuk. Lepas dari Pos 3 kita disuguhi tanjakan terjal dengan kemiringan 45 derajat yang stabil dan cukup panjang.

Tanjakan ini cukup menguras tenaga, tapi selepasnya kita disuguhi trek melandai yang cenderung menurun hingga menemui Pos 4 yang berupa bangunan yg sudah ambruk atapnya tapi terlihat kalau didalamnya ada beberapa pendaki yang menjadikannya sebagai shelter peristirahatan. Setelah beberapa lama akhirnya jelang pkl 01.00 WIB dinihari seluruh rombongan menjejak Ranu Kumbolo. Walau gelap, tapi dari keremangan lampu atau senter yang menyala terlihat kalau Ranu Kumbolo penuh sekali dengan tenda malam itu, belum lagi dingin yang menusuk tulang. Secepatnya seluruh rombongan mendirikan tenda-tenda, beberapa memasak makanan & minuman hangat, beberapa langsung terlelap setelah tenda berdiri.

Walau sangat dingin, tapi kami melewati dinihari hingga subuh hari dengan relatif nyenyak, yang mungkin juga terbantu fisik yang lelah serta kurang tidur dalam perjalanan via Kereta Api. Waktu menunjukkan pkl 05.30 WIB ketika saya terbangun, dan mendapati suara-suara di luar tenda sudah cukup ramai. Ketika keluar tenda saya mendapati kabut pekat masih bersemayam di Ranu Kumbolo dan menghalangi pemandangan air danau. Kondisi view ke air danau yang tertutup kabut pekat ini cukup lama hingga selepas pkl 07.00 WIB. Aktifitas pagi di ranu kumbolo diisi dengan agenda masak-memasak, bercengkrama antar anggota dan pastinya mengabadikan momen pagi di Ranu Kumbolo yang eksotis sambil menanti Pkl 10.00 WIB waktu yang disepakati untuk keberangkatan menuju Pos Kalimati.

Jum’at 3 Juni 2011

Etape 2 : Ranu Kumbolo – Oro Oro Ombo – Cemoro Kandang – Jambangan - Kalimati
Pkl 10.15 WIB semua rombongan sudah bersiap melanjut menuju Kalimati kecuali beberapa orang dikarenakan kondisi sakit memilih untuk menetap di Ranu Kumbolo, beberapa lagi tetap ke Kalimati tapi kemudian kembali lagi ke Ranu Kumbolo untuk bermalam. Dengan sedikit briefing kemudian berdo’a bersama perjalanan ke kalimati pun dimulai.

Perjalanan diawali dengan mendaki dinding bukit yang mengelilingi ranu kumbolo yang acap di sebut “Tanjakan Cinta”, dengan kemiringan yang cukup terjal dan panjang. Alhasil banyak peserta yang cukup kepayahan untuk sampai di atas bukit.

Tapi kepayahan dalam mendaki tanjakan cinta kontan terbayar dengan hamparan sabana rumput yang sangat luas dan sangat memanjakan mata, yang disebut oro-oro ombo. Dijalur sebelum masuk ke oro-oro ombo ini saya bertemu dengan seorang pendaki berkaus lengan panjang biru telur asin yang disainnya tak asing walau saya tidak ikut Gathering Nasional OANC dan ternyata pendaki gondrong itu adalah kaskuser OANC ber-ID “Rizliconfuse” sambil bertukar sapa sejenak, yang belakangan diketahui jalan bareng dengan dua kaskuser OANC lainnya yaitu “Garayy” dan “Alfanaki”. Melintas oro-oro ombo bisa dengan melipiri jalan setapak disisi kiri bukit atau turun ke bawah dengan kemiringan agak curam, lalu melintasi padang rumput yang cukup tinggi.

Selepas sabana oro-oro ombo, rombongan masuk ke kawasan hutan dengan vegetasi cukup rapat hingga sampai di suatu area dengan pohon-pohon cemara cukup banyak yang acap disebut “Cemoro Kandang”. Setelah mendaki dan melintasi cemoro kandang, perjalanan kemudian sampai di satu dataran landai yang cukup luas dengan beberapa edelweis yang disebut “Jambangan”. Dari area jambangan ini, kemegahan puncak mahameru jelas sekali terlihat. Di area ini kita kembali bertemu dengan trio OANC-ers, Rizliconfuse,Garayy & Alfanaki. Dan karena kamera yang dibawa om-om OANC-ers ini bertipe DSLR canggih, alhasil cukup lama kita berfoto-foto ria di Jambangan karena beberapa rekan memang hanya berniat sampai di Jambangan saja lalu kembali lagi ke Ranu Kumbolo.

Setelah istirahat,bercengkrama & banyak berfoto-foto rombongan yang akan melanjut ke kalimati meneruskan sedikit lagi perjalanannya hingga sampai sekitar pkl 15.00 WIB di Kalimati dan memilih lokasi di beberapa puluh meter disebelah kanan bangunan permanen di Kalimati, istirahat,buka tenda,masak-masak dan mengambil air secukupnya di Sumber-Mani (berjarak sekitar 45 menit perjalananan pulang pergi dari tempat kami beristirahat). Yang beristirahat di area ini adalah Regu 2 (Dwi Purwanto cs), Regu 4 (Gerombolan Bandung) serta Regu 5 (Pasukan Surabaya dsk). Regu 1 (Ahmad Fauzy dkk) memilih mendekat di Bangunan Permanen Pos Kalimati, sementara Regu 3 (Djal dkk) memutuskan melanjut ke Arcopodo dan akhirnya membuka tenda di pos/shelter sebelum pos arcopodo. Sore hingga malam di Kalimati dilalui dengan banyak istirahat untuk persiapan Summit Attack.

Sabtu 4 Juni 2011
Etape 3 : Kalimati – Arcopodo – Cemoro Tunggal - Mahameru
Waktu menunjukkan pkl 22.45 ketika saya terbangun dan mendengar suara rekan-rekan yang sudah terbangun lebih dahulu di luar tenda. Pkl 23.00 WIB baru benar-benar keluar tenda untuk menyantap makanan serta menyeruput minuman hangat. Pkl 24.00 semua rombongan sudah bersiap dengan perbekalan makanan/minuman secukupnya dalam tas kecil masing-masing, lalu briefing sejenak dan berdo’a bersama. Perjalanan dimulai dengan masih menapaki lahan datar kalimati melewati bangunan permanen, lalu tak berapa lama bertemu dengan turunan yang agak curam dan melewati jembatan kecil. Mulai masuk ke vegetasi hutan, jalur pendakian mulai menanjak dan cukup melelahkan.

Setelah sekitar 1.5 jam berjalan rombongan akhirnya sampai di Arcopodo. Terlihat beberapa tenda berdiri di shelter ini, dan masih ada beberapa orang yang tengah bersiap-siap untuk muncak. Setelah agak lama beristirahat dan menyantap perbekalan di pos Arcopodo, rombongan lalu beringsut melanjutkan perjalanan. Selepas Arcopodo jalur pendakian mulai berpasir sampai bertemu dengan jalur sempit dengan melintasi tiang berantai di kiri & kanan, lalu selepas itu vegetasi sudah mulai hilang dan berganti dengan medan yang benar berpasir serta berbatu (yang kebanyakan merupakan pijakan yang labil).

Di jalur ini suhu menjadi sangat dingin dan hembusan anginnya cukup kencang, sehingga kita akan cepat sekali merasa kedinginan bila tengah istirahat sejenak. Ketika mendongak ke atas terlihat sekali kalau pendaki yang tengah meniti jalur menuju puncak sangat-sangat banyak, yang terlihat dari iringan sinar lampu senter yang rapat dan panjang. Di medan inilah apa yang sering di-ulas tentang 5-2 (5 langkah menapak naik 2 langkah menurun akibat pijakan pasir yang labil) benar terasakan. Antar Regu juga sudah mulai terpecah-pecah dan berjarak cukup signifikan antar satu dengan yang lain, karena begitu banyaknya pendaki yang muncak dinihari itu, sehingga ketika satu kelompok istirahat akan cepat disisipi oleh kelompok lain.

Alhasil waktu sampainya masing-masing regu ataupun beberapa orang yang tercecerpun menjadi bervariasi. Ada yang sudah sampai di puncak pukul 03.50, 04.10 WIB, pkl 04.30 WIB, pkl.05.00 WIB, pkl 05.30 , antara pkl 06.00 hingga pkl 07.00 WIB, dan beberapa lagi antara Pkl 07.00 hingga pkl 08.00 WIB. Pemuncak yang terakhir tercatat adalah atas nama Apoey dari Regu 2, yang memang menjadi sweaper bersama Adam, yang terus menemani 2 orang pendaki perempuan dari Regu 3 (Anggi) dan Regu 4 (Tyas) yang berjalan perlahan tercecer karena cedera yang mereka alami. Anggi & Tyas akhirnya memutuskan tidak melanjutkan pendakian, dengan banyak pertimbangan, dan akhirnya ditemani Adam (Regu 2) serta Dwi Purwanto (Ketua Regu 2), yang memutuskan berbalik arah ke bawah setelah di-contact via HT oleh Adam terkait kondisi Anggi & Tyas, padahal Mahameru sudah tak lama lagi akan dijangkau oleh Dwi, Salut !..dan pastinya salut juga terlantun tuk Adam yang telah dengan rela sabar berlama-lama terus menemani kedua rekan yg tengah drop kondisinya dan akhirnya ikut menemani sampai keduanya turun dengan selamat, mengalahkan "ego"-nya tuk menjejak Mahameru... Pendaki Sweaper sejati.


Etape Menurun :

Mahameru – Kalimati
Perjalanan menuruni lereng Mahameru menuju Kalimati benar-benar sangat berbeda & menyulut sensasi tersendiri dengan seolah-seolah kita tengah bermain Ski diatas salju, hanya saja medan yang kita luncuri adalah pasir. Tapi kehati-hatian, konsentrasi dan kuda-kuda yang bersiaga juga tetap mutlak dibutuhkan selama pendakian menurun, terutama untuk tidak menginjak batu-batu yang labil serta potensi untuk terjungkal karena terlalu semangat untuk turun. Saya dan beberapa rekan mulai meluncur turun lewat pukul 08.00 WIB dengan pergerakan perlahan akhirnya bisa kembali di pos Kalimati sekitar pkl 11.00 WIB. Sesampai di Kalimati rombongan langsung beristirahat, beberapa langsung terlelap dalam tenda, beberapa lagi mulai memasak logistik makanan yang masih tersisa. Sebagian besar rombongan berdiam istirahat di kalimati hingga pkl 14.00 WIB.


Kalimati – Ranu Kumbolo
Pkl 14.30 WIB rombongan sudah bersiap menuju Kalimati, lalu mulai menyusuri jalur menurun walau diawal jalur Kalimati menuju Jambangan kita kembali disuguhkan jalur landai menanjak yang agak panjang dan cukup menguras stamina. Setelah beristirahat dibeberapa titik shelter akhirnya dengan segenap tenaga yang tersisa sekitar pkl 16.45 rombongan kembali menjejak areal Ranu Kumbolo dan bergabung bersama pendaki-pendaki lainnya yang sudah terlebih dahulu sampai. Sesampai di Ranu Kumbolo langsung beristirahat sambil menyantap makanan serta minuman yang disiapkan oleh beberapa rekan yang tidak ikutan ke kalimati dan bermalam di Ranu Kumbolo. Setelah cukup istirahat dan menyantap makanan, packing ulang dilakukan khususnya untuk tenda-tenda yang masih berdiri di ranu kumbolo serta perlengkapan-perlengkapan yang sebelumnya sengaja ditinggal di ranu kumbolo.

Ranu Kumbolo – Ranu Pane
Waktu menunjukkan Pkl 17.30 WIB ketika rombongan yang memutuskan untuk langsung ke Ranu Pane untuk bermalam berangkat meninggalkan Ranu Kumbolo. Sebenarnya saya dan beberapa rekan dilanda kekhawatiran apakah tetap berangkat pkl 17.30 wib atau pkl 18.30 selepas Maghrib. Tapi karena pertimbangan agar masih mendapat beberapa waktu berjalan dalam kondisi terang serta pertimbangan agar sampai di Ranu Pane tidak lewat tengah malam, ditambah lagi suhu di Ranu Kumbolo saat itu mendadak terasa sangat dingin, bahkan beberapa menyebut lebih dingin daripada ketika di Puncak ataupun di Ranu Kumbolo malam sebelumnya, akhirnya rombongan memutuskan untuk tetap berangkat. Satu jam berjalan rombongan akhirnya sampai di Pos 3, dan terlihat ada tenda “Mountain Hardware” yang terpasang di areal depan pos 3. Langsung beberapa rekan bergumam, “Weitss..Mantapp nih gear-nya.. Tenda Dewa”..hehehe..dan ketika beristirahat di Pos 3 dan bertemu dengan para pemilik tenda tersebut barulah kita tahu kalau ternyata ketiga orang tersebuh adalah para sesepuh OANC yaitu Om Tempixer, Om Baloengnom & Om Sherpageisha. Obrolan hangatpun langsung mengalir setelah para sesepuh tersebut mengetahui kalau sebagian dari kita juga adalah OANC-ers.

Selepas Pos 3 rombongan langsung bergegas dengan ritme berjalan yang relatif normal dengan sedikit Istirahat, dengan suasana yang tetap ceria ditambahlagi dengan bayangan teh manis hangat dan nasi rawon yang sudah lekat melintas difikiran banyak rekan. Melewati Pos 2 lalu lanjut ke Pos 1 (Watu Rejeng) dengan naungan langit yang sangat cerah. Tapi memang, apa yang telah banyak disampaikan untuk tidak berjalan malam di rentang jalur Ranu Kumbolo – Ranu Pane, agaknya lebih baik untuk diikuti terkecuali memang ada kondisi-kondisi yang mengharuskan atau tidak ada opsi untuk menunda dengan bermalam lagi Ranu Kumbolo.

Entah memang kondisi fisik yang sudah melemah, dengan keletihan sangat serta kondisi mengantuk akibat kurangnya istirahat beberapa rekan merasakan hal-hal yang diluar nalar dibeberapa titik khususnya jelang pos 1. Dan semua anggota rombongan meng-iyakan ketika seorang anggota berujar kalau dari Pos 1 menuju ke Ranu Pane menjadi terasa sangat lama (ditempuh lebih dari 1.5 jam dengan kondisi kita tidak berhenti untuk beristirahat) dengan beberapa merasa melewati ruas yang sama. Tapi lepas dari hal-hal diluar nalar yang mungkin diinisiasi oleh faktor keletihan, akhirnya jelang pkl 23.30 WIB seluruh rombongan berhasil menjejak Basecamp Ranu Pane kembali dan langsung menghambur ke warung nasi Ibu disebelah kiri sebelum Basecamp dan sebagian lagi menyasar Baso Malang didepan Basecamp peristirahatan. Selepas bersantap, seluruh rombongan langsung terlelap dalam Sleeping Bag masing-masing di dalam ruangan Basecamp yang cukup luas, dengan sebagian tidur didalam kamar dengan kasur yang disewa dengan harga sangat kekeluargaan ala Pendaki.

Minggu 5 Juni 2011
Sebagaimana opsi yang ditawarkan di itenerary sebelum perjalanan, rombongan akhirnya terpecah menjadi 2 main-stream, mereka yang memilih melanjutkan perjalanan ke Bromo dan sekitarnya sebelum nantinya melanjut ke Probolinggo, lalu Surabaya dan akhirnya ke Jakarta serta rekan-rekan yang memilih untuk langsung dari Ranu Pane menuju ke Tumpang, Malang lalu pulang ke asal domisili masing-masing, termasuk di rombongan ini Regu 1 dan 3 yang memutuskan bermalam lagi di Ranu Kumbolo di malam sebelumnya dan baru Minggu pagi meluncur ke Ranu Pane.


Penutup & Terimakasih
Akhirnya hanya kesyukuran sangat yang terlantun mengakhiri ekspedisi ceria pendakian gunung semeru ini bahwa akhirnya kesemua peserta dapat kembali ke rumah masing-masing dengan selamat tanpa kurang satu apapun, walau beberapa rekan membawa sedikit cedera dan ada satu-dua yang kehilangan barang ketika perjalanan pulang. Melantun kesyukuran atas keselamatan seluruh rombongan di bilangan Jumlah pendaki yang terbilang sangat banyak, dengan segala kompleksitasnya. Ternyata kasih sayang dan keberkahan-NYA selama ekspedisi ini sangat terasa menaungi kami selama perjalanan. Dari ragam latar belakang anggota yang banyak tak saling mengenal sebelumnya, tapi Alam akhirnya menjadikan kita bersatu tak ubahnya satu keluarga. Binar wajah & senyum mengembang mengiringi celoteh-celoteh riang selepas pendakian Semeru akhirnya mengantarkan pada satu tanya yang sama, “ Selepas ini..KITA kemana lagi ? “..
Karena sejatinya, “Tiada AKU atau KAMU, yang ada hanya KITA dan ALAM”.

Terima kasih kepada :
1. ALLOH Swt, Tuhan YME, yang Maha Memudahkan, yang Maha Berkehendak, yang Maha berkuasa sehingga atas kuasa-NYA, perjalanan ini dapat berjalan dengan baik & lancar.

2. Keluarga (Orang-tua/Suami/Istri/Anak-anak) dari masing-masing anggota pendakian yang mendukung kiprah kami dalam ekspedisi ini, terutama dengan munajat do’a-do’a untuk keselamatan perjalanan.

3. Seluruh anggota “Komunitas Pencinta Alam Warna-Warni (KaPAWW)” atas dukungan & perbantuannya, walaupun tidak ikut serta dalam pendakian tapi hati mereka terus bersama yang ikut serta.

4. Keluarga besar Kaskus OANC dengan segenap keramahan & kehangatannya berbagi banyak hal seputar sebuah ekspedisi pendakian yang baik, termasuk untuk para OANC-ers yang ikut serta dalam pendakian ini.

5. Semua pihak yang telah membantu, yang tidak dapat tersebut namanya satu persatu.

-------------------------------------------------------------------------
Rincian Biaya (Regu yang berangkat dari JKT ke Malang via Surabaya)
Keberangkatan
1. KA Gumarang (Kelas Bisnis) JKT Kota 17.45 wib -Surabaya 05.20 wib=@ Rp. 185.000
2. Carter Elf Stasiun Ps.Turi Surabaya - Tumpang = Rp.400.000
3. Carter Jeep Tumpang - Pos Registrasi Ranu Pani = Rp. 450.000 (s.d 12org)
4. Biaya Pendaftaran Pendakian di Ranu Pani = @ Rp.7.500 + Rp. 5.000 untuk setiap kamera yang dibawa.
5. Biaya Porter Rp.100.000/Hari

Kepulangan + Side Trip to BROMO
1. Carter Jeep Ranu Pani - Bromo/Cemoro Lawang = Rp. 450.000
2. Angkutan Bison cemoro lawang - probolinggo = @Rp.25.000
3. Bis Probolinggo - Terminal Bungur Surabaya = @Rp. 12.000,-
4. Terminal Bungur - Stasiun pasar turi = Bis Kota @Rp.5.000/Carteran Kijang @Rp.8.000
5. KA Gumarang (kelas bisnis) Sby Ps.Turi 17.25 wib - JKT 06.00 wib = Rp.185.000

7 komentar:

Ahmad Fauzy mengatakan...

Mantab...
customize lebih mendalam lagi nih sepertinya...

^__^

Djal GM mengatakan...

Gagal pertamax

untuk kepala halaman diganti dung, masa thema otomotif hehehe

Eko Prastyo mengatakan...

ajieb...

atis 1409 JS mengatakan...

asiik..... sundul gan :)

Adi Bodhonk Sugiyono mengatakan...

Tulis tentang Gunung Ungaran juga Pak ..
Hehehehehe ..

KPAWW mengatakan...

nanti ya kang. klo kami sudah kesana :)

zhizie mengatakan...

Keren..... !!!

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by RadaBolot - BolotJourney | Design Blog, RadaBolot